Tentang Kosan dan Sang Ratu Cicak [ 27 Juni 2009 ] Diposkan di » jogja, kebodohan, keluh kesah

Semua berawal dari berakhirnya masa sewa satu tahun kosan gue di Sleman. Ada suatu fakta di daerah kosan sebelah utara UGM, mulai dari Pogung di barat sampai Klebengan di timur: bahwa semakin dekat lokasi kosan dengan kampus, semakin mahal harga sewanya. Tapi, lu masih bisa mendapatkan kosan dengan harga kompetitif: Rp150-250 ribu sebulan di daerah-daerah gemuk ini, namun tentu saja dengan ‘sedikit’ pengorbanan yaitu berkurangnya kenyamanan hidup a.k.a. mendapatkan kosan kumuh. Ini yang gue alami selama satu tahun menetap di Yogya.

Kosan gue berharga sewa Rp245 ribu sebulan. Ga terlalu kumuh, keadaannya malah lumayan menyenangkan. Satu-satunya yang gue permasalahkan adalah keadaan kamar mandinya. Tiga kamar mandi untuk sepuluh orang, tiga kamar mandi dengan satu buah lampu pijar 10 watt (bayangkan betapa remangnya!), dan tiga kamar mandi dengan hanya dua yang ada klosetnya (versi jongkok, jelas). Menyedihkan. Kerannya sering mati. Dan yang paling buruk dari semuanya, ketiganya bertokek. Iya. T.O.K.E.K. Reptil berwujud kadal menjijikkan, besar, hitam, berbentol-bentol ungu, bersuara keras-mengerikan, dan bermata menonjol. Dari seluruh hewan ciptaan Tuhan, hanya keluarga reptilia dan amfibia — tokek dan kodok misalnya — yang mampu membuat bulu kuduk gue merinding. Jijik. Cacing, lintah, dan kecoak hanya membangkitkan sedikit rasa jijik, tapi gue masih berani berada di dekat-dekat mereka (walaupun tidak dengan sukarela). Sedangkan bagi tokek dan kodok, gue menyerah. Rasa jijik langsung menguasai. Bahkan melihat ilustrasinya di buku biologi pun bikin gue getek. Tolong. Jauhkan gue dari tokek.

Ayo baca lebih lanjut lagi…

Tentang Konjungtivitis dan Swakarantina

ransum seminggu

Iya. Gue kena konjungtivitis. Peradangan pada konjungtiva mata sehingga menyebabkan perubahan warna selaput pembungkus sklera menjadi merah. Persis mata merah karena kelilipan debu, hanya jauh lebih menyeramkan. Bayangkan seluruh warna putih pada bola mata lu berubah merah. Merah darah. Itulah konjungtivitis. Dan gue kena penyakit laknat ini.

Konjungtivitis disebabkan oleh infeksi bakterial atau viral. Tapi yang gue kaenya karena infeksi bakterial. Menyebalkan. Selama hampir seminggu gue mengarantina diri sendiri di dalam kamar kos. Kalau di kampus gue hanya bisa nunduk, duduk sendiri merana di belakang kelas. Gue menolak menggunakan kacamata hitam karena akan mengesankan gue: (1) sok keren, (2) alay, (3) buta, dan (4) persis kuda penarik delman di Malioboro. Lagipula, kacamata hitam hanya akan memperjelas dan mempertegas bahwa gue sedang mengalami masalah dengan mata. Sudah cukup buruk gue berjalan ke mana-mana dengan mata semerah Sasuke dan Sharingan-nya, tanpa perlu ditambah mengenakan kacamata hitam yang akan berefek bagaikan papan reklame iklan, “Uki sedang terserang konjungtivitis!”

Ayo baca lebih lanjut lagi…

6 Juni 2009 | 7 Komentar

Camelback untuk Perlengkapan Ekshibisi dan Pameran

Dalam suatu ekshibisi berstandar internasional, Anda tentu menginginkan perlengkapan yang mencerminkan keprofesionalan pameran Anda. Penyewaan bilik-bilik pameran (booth) yang kurang representatif tentu akan mengurangi kredibilitas Anda sebagai penyelenggara pameran. Begitu pula dengan banner stand, penutup lantai (karpet, mat, atau bahkan lantai kayu), kursi, serta meja. Semua perlengkapan pameran ini akan menarik perhatian para penyewa bilik dan meningkatkan jumlah penawar. Anda ingin perlengkapan ekshibisi dan pameran yang profesional dan representatif? Kunjungi CamelBack Trade Show Displays.

CamelBack menyediakan perlengkapan ekshibisi dan pameran yang representatif untuk segala jenis pameran; mulai dari konser, klub, seminar, dan acara penting lainnya. Perlengkapan Truss Exhibits dan Logo Floor Mats yang dapat menampilkan logo perusahaan penyewa bilik pameran, serta tentu saja Exhibits Booths yang profesional, terbuat dari bahan-bahan tahan lama.

Juga menyediakan pencahayaan, panel, iklan gantung, iklan berdiri, taplak meja pameran, panggung, dan kanopi serta tenda. CamelBack menyediakan semuanya.

8 Mei 2009 | 3 Komentar

tentang Justifikasi Hiatus

hiatus /ha?’e?t?s/ n [usu sing] [etymology: Latin, from hiare to yawn, circa 1563]
space or pause when nothing happens or where something is missing

1a: a break in or as if in a material object: GAP  b: a gap or passage in an anatomical part or organ
2a: an interruption in time or continuity: BREAK ; especially: a period when something (as a program or activity) is suspended or interrupted
b: the occurrence of two vowel sounds without pause or intervening consonantal sound

Merriam-Webster Collegiate Dictionary, Oxford Learner’s Pocket Dictionary

 

Terakhir kali gue menulis pos di blog ini adalah pada XXX. Lebih dari satu setengah bulan gue ga mengunjungi blog ini. Gue punya satu justifikasi yang menurut gue cukup kuat untuk membenarkan hibernasi gue ini.Sejak pertengahan Februari kemarin hampir setiap sore gue ada latihan debat bahasa Inggris yang intensif buat kompetisi debat di ALSA UI April kemarin. Latihannya mulai pukul 17 sampai 22, dari Senin sampai Minggu. Jadi, ditambah jadwal kuliah dari jam 7 sampai 14, gue hampir ga punya waktu buat ngapa-ngapain selain kuliah dan latihan. Apalagi buat nulis pos di blog. Heuh.

Ayo baca lebih lanjut lagi…

27 April 2009 | 3 Komentar

Suatu Siang di Stasiun Sangkrah

DSC00029-2

Stasiun Sangkrah adalah nama sebuah stasiun kecil yang hampir terlupakan; baik dari benak penduduk Solo maupun dari jalur perkeretaapian Indonesia. Stasiun ini bernama resmi Stasiun Solo Kota, namun karena terletak di Sangkrah, populer dengan nama Stasiun Sangkrah.

Sudah cukup lama stasiun ini menarik perhatianku karena letaknya sangat dekat dengan Gerbang Gladak, Keraton Surakarta Hadiningrat. Ada kemiripan antara Keraton Surakarta Hadiningrat dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dan bukan dalam perihal kesamaan trah kesultanannya. Lihat tataruang kedua keraton ini. Di sebelah utara ada bank, kantor pos, stasiun, dan benteng Belanda (Vredeburg dan Vastenburg). Yang membuatku penasaran adalah: mengapa stasiun Yogyakarta di utara keraton tumbuh menjadi stasiun penting (tahukah kau, Stasiun Yogyakarta adalah pusat Daerah Operasi VI PT KA yang meliputi 405 ribu kilometer rel dan 12 kabupaten di Jawa Tengah dan Yogyakarta) sementara saudaranya, Stasiun Sangkrah di Solo, perlahan mengerdil dan keberadaannya menjadi semakin tidak penting di tengah jejaring rel Nusantara. Sangkrah hanya melayani rute Purwosari-Wonogiri, dua perjalanan setiap hari. Satu pagi hari dan satu lagi sore harinya.

Ayo baca lebih lanjut lagi…

11 Maret 2009 | 8 Komentar

Hati-hati dengan Tandatangan Anda!

Ya. Hati-hati dengan tandatangan Anda, terutama tandatangan di KTP. Gue berhenti langganan dari Matrix Broadband karena masalah tandatangan ini. Tapi… Ah, biarin. Matrix Broadbandnya juga mengecewakan ko. Ngapain juga dipertahankan. Apa-apaan, masa janjinya 256kbps tapi kenyataannya paling cepat hanya 15kbps? Tambahan lagi, koneksinya suka putus, mandeg tiba-tiba, dan susah konek. Yang paling ngehe, paling sering gue hanya bisa akses Internet dengan kecepatan 1kbps. Anying! Bahkan jauh lebih lambat dari Telkomnet Instan! Pengalaman gue dua tahun lalu waktu masih pake Telkomnet, kecepatan rata-rata 7-30kbps. Tokai deuh Matrix.

Yayaya, balik ke topik. Kenapa mesti hati-hati dengan tandatangan – terutama yang di KTP? Karena tandatangan di KTP seakan sudah menjadi model tandatangan Anda. Beneran. Coba aja bikin kartu debit di bank. Dulu si Customer Service Bank Mandiri gue membandingkan tandatangan gue di kartu ATM dengan di KTP. Terus waktu daftar jadi mahasiswa baru di UGM. Tandatangan gue di surat pernyataan dicocokin dengan di KTP. Beuh, pokoknya seakan-akan tandatangan KTP kita adalah ayah dari tandatangan kita yang lain, kagak boleh beda. Ibaratnya kalau sampai beda dengan yang di KTP, yudadababai. Tandatangan Anda yang berbeda itu bisa dianggap ‘anak haram’.

Ayo baca lebih lanjut lagi…

25 Februari 2009 | 13 Komentar

Capres Petahana dengan Cawapres Sri Mulyani?

3078

Gue adalah pendukung Susilo Bambang Yudhoyono, calon presiden petahana dari Partai Demokrat. Bahkan, seandainya gue tidak ingat beban SKS gue semester ini 24 SKS, mungkin gue sudah mendaftarkan diri menjadi tim sukses SBY hahaha…

Yah, isi pos ini hampir full membahas kinerja positif SBY dan kemungkinan beliau berpasangan dengan Sri Mulyani. Jadi, gue mohon jangan ada yang berkomentar, “Ko pakai bolpoin biru terus, bolpoin merahnya mana?” atau mendesak gue untuk “netral”. Lha wong niatnya ingin menggaet orang-orang untuk pilih SBY kok disuruh nulis sisi buruknya. Kekeke, gue memang tidak menyangkal ada kebijakan SBY yang dianggap beberapa pihak “salah” atau “tidak merakyat”, tapi untuk pos ini, biarlah gue menyanjung beliau… hahaha

Oiya, semua tautan di sini menaut ke situs berita, bukan ke blog. Jadi ya, percaya aja deh sama fakta-faktanya (walaupun gue ga menyangkal, selalu ada dua sisi berita. Tergantung lu mau liat sisi yang mana, dan gue maunya liat yang positif aja. ksksksks…)

Ayo baca lebih lanjut lagi…

15 Februari 2009 | 17 Komentar

“No Pain, No Gain”

Hari ini gue sudah sampai kembali di Yogya. Empat bulan gue bakal bersemayam di sini dengan dibebani 24 SKS mata kuliah seminggu dan les bahasa Belanda. Rasanya setengah malas setengah semangat. Semangat, karena semester ini gue bakal punya printer, koneksi internet, dan kasur spring bed di kamar. Malas, karena beban SKS yang banyak membuat gue pasti bakal sering begadang menyelesaikan tugas.

Kakak gue satu-satunya, sebut saja Bunga *wiidiiiiww… biar kayak berita di koran ato tipi… wkwkwk*, yang kuliah di Periklanan Universitas Indonesia baru dapat orderan dari temannya, sebut saja Mawar, bikin presentasi berbasis flash dan dibayar satu juta untuk itu. Entah karena gue yang emang dari sononya perfeksionis, begitu dengar kata “satu juta”, gue langsung membayangkan presentasi yang “wah”, dengan berbagai kecanggihan ActionScript 3.0 dan Adobe Flash. Kakak gue sih tenang-tenang aja, padahal pengetahuan dia akan Adobe Flash sama dangkalnya dengan pengetahuan gue di Hukum Pengungsi Internasional. Entah mengapa gue malah senewen sendiri, takut kakak gue digugat sama si Mawar kalau ternyata hasil kerja kakak gue ga sebagus yang diharapkan Mawar.

Ayo baca lebih lanjut lagi…

14 Februari 2009 | 6 Komentar

Parahyangan

SDC12396-1

Boleh dibilang gue telat menulis pos ini. Liburan gue ke Puncak dan Cipanas sudah berlalu tepat satu minggu. Tapi, pesona yang ditinggalkan bumi Parahyangan berdiam dalam hati dan benak gue selama sepekan ini. Gue harus menulis sesuatu, mewartakan kecantikan Sunda kepada mereka yang belum tahu (aaah… mulai lebay).

Di daerah yurisdiksi Provinsi Jawa Barat ada daerah yang disebut Parahyangan (atau Priangan atau Preanger). Parahyangan terdiri atas wilayah Bandung, Cianjur, Ciamis, Cimahi, Garut, Sumedang, dan Tasikmalaya. Sejak dahulu, daerah Sunda dikenal sebagai daerah yang paling subur di Pulau Jawa. Sebagian besar wilayahnya terdiri atas pegunungan. Itulah sebabnya orang-orang Belanda dulu menyebut orang Sunda sebagai “Jawa Gunung”. Perawakan orang Sunda, menurut Raffles lebih menyenangkan daripada orang Jawa, dalam arti warna kulit lebih cerah dan garis wajah lebih halus (gue sendiri orang Jawa dan walaupun agak kesal juga melihat Raffles membandingkan Jawa dengan Sunda, gue harus mengakui bahwa orang Sunda secara umum memang lebih cantik dan tampan). Tidak heran apabila mojang-mojang geulis dan jajaka nu kasep yang tinggal di lereng, kaki, dan puncak gunung Ciremai, Tangkuban Parahu, Pangrango, Geulis, Manglayang, dan Salak bangga dengan sebutan “Bumi Parahyangan”, bumi tempat para hyang – dewa – bersemayam. Seperti kata psikolog dan pastor orang Belanda yang akhirnya menjadi WNI, Tuhan menciptakan Priangan yang jelita sambil tersenyum; begitu indah rupanya.

Ayo baca lebih lanjut lagi…

2 Februari 2009 | 6 Komentar

Beli Buku Daring: Bukabuku

SDC12426-1

Perkembangan e-commerce akhir-akhir ini cukup pesat. Sejak penemuan internet lebih dari satu dasawarsa yang lalu, semakin banyak potensi internet yang terjelajah. Gak cuman memungkinkan orang bertukar berkas secara sekejap, internet juga membuka usaha-usaha perdagangan maya. Banyak orang yang telah meraup keuntungan jutaan rupiah dari perdagangan maya. Namun, perkembangan e-commerce di Indonesia masih terhitung lambat, dibandingkan dengan di Amerika, Eropa, Jepang, dan Cina. Gue berharap suatu saat nanti dunia perdagangan maya di Indonesia akan tumbuh sehingga gue bisa beli pizza atau pesan tiket kereta jam satu malam via internet. Masih banyak orang Indonesia yang takut berbelanja di e-commerce. Wajar. Gue sendiri pertama kali beli parfum di internet juga waswas, takut ketipu. Tapi harus kita ingat bahwa prinsip perdagangan maya adalah kepercayaan, baik dari pihak pembeli maupun pedagang. Kalo gak ada kepercayaan, sistem perdagangan ini gak akan bisa tumbuh, apalagi berkembang.

Sebagai bentuk sumbangsih gue kepada perkembangan perdagangan maya Indonesia, gue mulai membiasakan diri membeli barang-barang lewat internet. Sejauh ini gue udah tiga atau empat kali beli barang via internet dan semuanya aman-aman aja. Gue gak menyangkal bahwa ada beberapa toko maya nakal yang niatnya memang menipu calon pembeli. Nah, jadi pertanyaannya gimana caranya memilih toko maya yang kredibel? Ada saran kecil yang mungkin berguna buat lu; ketikkan nama toko itu disertai kata sifat negatif atau positif. Misalnya, “bagaspati kecewa” atau “beli bagaspati puas” di mesin pencari, misalnya Google. Hasil-hasil pencarian yang muncul – biasanya berbentuk testimoni – akan membantu lu menemukan apakah toko itu tepercaya apa engga.

Hari ini gue dikirimi dua jilid buku; The Tales of Beedle the Bard sama The Last Juror: Anggota Juri Terakhir oleh toko buku maya Bukabuku.

Ayo baca lebih lanjut lagi…

31 Januari 2009 | 4 Komentar

Ditenagai oleh WordPress | Blue Weed oleh Blog Oh! Blog | Pos (RSS) dan Komentar (RSS).